Kebenaran Kaum Sofis: Refleksi kinerja Pansus Century
Posted on | February 8, 2010 | 1 Comment
OKELah…! Dua kubu mengklaim mencari ‘kebenaran’ dalam Pansus Century. Kubu Demokrat vs Golkar-PDIP dan yang lainnya. Hasilnya, ada dua versi ‘kebenaran’. Tetapi, siapa yang mau percaya begitu saja kebenaran yang diklaim oleh para politisi?

Sokrates : Korban Hegemoni Kebenaran Kaum Sofis
Politik adalah seni mencapai tujuan. Dengan cara apa atau atas nama apa, sesungguhnya kekuasaan adalah tujuan dari para seniman politik. Rakyat awam (seperti saya) kerap dibuat bingung oleh retorika dan perilaku politik para politisi. Salah bisa menjadi benar, benar bisa menjadi salah. Seperti kaum Sofis pada zaman Yunani kuno. ‘Kebenaran’ adalah produk retorika. Dengan retorika para Sofis mampu menggiring opini publik dan membenarkan apa yang menjadi settingan kaum Sofis itu. Dan ketika publik telah mengamini wacana yang dipaparkan oleh mereka, terciptalah ‘kebenaran’ produk mereka.
Yunani Kuno adalah negara demokrasi pertama. Barang siapa mampu menggiring opini massa, dialah yang berkuasa. Tetapi seorang filsuf yang mengedepankan hati nurani dan melihat kebenaran sebagai kebenaran justru tersingkirkan dan tidak populer. Sokrates, harus menderita kemiskinan sepanjang hidupnya, dan harus mengakhiri hidupnya dengan meminum racun sebagai hukuman atas sikapnya terhadap kebenaran.
Secara metodologi, Kaum Sofis menggunakan hegemoni wacana. Meski di alam demokrasi, dengan kepiawaian mengolah kata (retorika), kaum sofis berusaha menggiring opini pada tujuan yang telah mereka tetapkan. Maka, meskipun terjadi komunikasi kepada publik, sesungguhnya yang terjadi adalah monolog. Sementara Sokrates menggunakan metode dialog. Menggali kebenaran dari sumber-sumbernya kemudian melakukan konfrontasi dialektis pada argumen-argumen yang berbeda. Dari situ akan muncul kebenaran. Dialog berbeda dengan interogasi. Interogasi adalah metode mencari kebenaran berdasarkan persangkaan tertentu, sehingga pertanyaan-pertanyaan dibuat berdasarkan settingan tujuan, yaitu membenarkan persangkaan. Maka, interogasi sesungguhnya adalah bagian dari hegemoni kebenaran yang sepihak.
Saya bertanya dalam benak saya, ketika para sofis berdebat tentang kebenaran, apakah kebenaran yang sejati masih tersimpan rapi atau telah hancur terinjak-injak oleh politik kepentingan? Kalaupun masih tersimpan rapi, adakah ia akan terkuak? Kalau telah terinjak-injak oleh politik kepentingan, siapakah yang telah dikorbankan?
Comments
One Response to “Kebenaran Kaum Sofis: Refleksi kinerja Pansus Century”
Leave a Reply






March 9th, 2010 @ 6:06 am
Hola,
Nombre de okelah.biz a GoogleReader!
Gracias
BernieR