Written by pius on February 7, 2010 – 11:05 am
OKELah…! Beberapa kasus pembajakan kartu ATM dan menguras isinya mencuat ke media. Berbagai metode dipakai oleh kawanan pembobol rekening melalui ATM. Mulai yang paling kampungan, misalnya mengganjal lobang ATM supaya kartu tertelan, menggunakan alat skimmer untuk membaca nomor dan password ATM, sampai teknik hacking yang canggih dengan membobol security pada source code dan data base. 
Berita terbaru, seorang petani di Pare-Pare terkejut saat mencetakkan histori rekening banknya di Bank Mandiri setempat. Saldo pada rekeningnya bertambah secara misterius Rp 13 triliyun. Tiga hari kemudian berkurang Rp 22 triliun. Jadi, si pembobol rekening itu meninggalkan hutang pada si petani sebesar Rp 9 triliyun.
Di Bali seseorang kehilangan uang secara simultan setiap 20 detik. Dalam histori transaksi penarikan itu terjadi di berbagai tempat dalam waktu hampir bersamaan. Setiap transaksinya hanya jeda 20 detik.
Masih banyak kasus lain. Saatnya untuk mengevaluasi sistem security pada transaksi perbankan. Resiko penggunaan data digital memang rawan pembobolan. Hacker Indonesia termasuk yang diakui kepiawaiannya di dunia. Untuk pembobol kartu kredit (carding) Indonesia menempati urutan 3 besar dunia. Dan apabila seorang hacker mampu menembus security database sebuah bank, maka tinggal mengetik angka yang dia kehendaki untuk menambah, mengurangi, dan menarik uang dari sebuah rekening maka terjadilah.
Ada lagi pembobolan yang paling spektakuler dan menjadi hot news beberapa bulan. Pembobolan yang dilakukan oleh bankirnya sendiri. Masih ingat kan kasus Bank Century..? Nah, saatnya mengevaluasi sistem security pada transaksi perbankan kita. Okelah kalau begitu..